Sabtu, 25 Mei 2019 | 20:28 WIB

Menyelipkan Kisah Motivasi dalam Mengajar

foto

Administrator

Oleh : Cepi Aunilah

(Pengajar di SMP Muhammadiyah 8 Bandung)

SESUNGGUHNYA banyak cara agar pembelajaran di kelas berlangsung ramai, menarik dan tidak membuat siswa mengantuk atau mengobrol dengan teman sebangkunya. Karena kondisi kelas yang kondusif—dalam artian bukan berarti seluruh siswanya pasif—adalah dambaan semua pengajar. 

Satu di antara cara agar kelas penuh riuh dan semangat adalah dengan menyelipkan kisah-kisah hikmah tentang motivasi yang disampaikan pengajar.

Banyak kisah hikmah atau motivasi dari referensi klasik hingga kekinian yang bisa dijadikan bahan bagi pengajar. Bahan-bahan itu banyak berserakan dalam buku-buku di perpustakaan atau versi digital di google.

Untuk itulah, pengajar tidak boleh gagap teknologi karena harus mampu beradaptasi dan apresiasi terhadap bahan-bahan mengajar yang berseliweran, tidak hanya dalam buku fisik/konvensional, tetapi juga di internet. Dengan semua bahan-bahan itu pengajar bisa mendapatkan berbagai kisah hikmah atau kisah motivasi yang nantinya disampaikan kepada seluruh siswa di kelas.

Di sela-sela waktu mengajar—atau mungkin bisa juga disampaikan di awal atau akhir pelajar sebagai penguat motivasi—bolehlah kita menyampaikan kisah hikmah yang penuh motivasi tentang belajar. Misalnya saja kisah tentang tokoh Ibn Hajar Al-Asqalani—pengarang kitab Fathul Baari—yang menemukan motivasi belajarnya dari tetesan air di dalam gua ketika dia berteduh setelah kabur dari pesantrennya karena dia merasa kesulitan dalam belajar.

Kisah yang lain juga bisa disampaikan, misalnya tentang bagaimana perjuangan Imam Syafii—pengarang kitab Al-Umm—yang sedari kecil sudah yatim dan miskin, tetapi semangat belajarnya luar biasa meskipun serba-kekurangan. Bahkan, ketika masih berguru, sang imam sampai menuliskan dan mencatat hadis-hadis yang disampaikan gurunya, Imam Malik, dengan cara menempelkan telunjuknya ke bibirnya, kemudian dituliskan lagi ke tangan kirinya. 

Kisah-kisah tokoh dan ulama Indonesia juga tidak kalah menariknya untuk disampaikan kepada siswa di kelas. Misalnya, tentang bagaimana semangat belajar, membaca, dan menulisnya ulama karismatik bernama Hamka. Meskipun sekolahnya tidak terlampau tinggi, tetapi karena semangat belajarnya tinggi, Hamka mampu menjelma sebagai ulama, intelektual, dan sastrawan yang banyak menorehkan karya-karya fenomenal, contohnya Tafsir Al-Azhar.

Mengapa harus kisah? Pertama, kisah adalah guru paling jujur yang tidak pernah menggurui. Ketika pengajar di kelas menyelipkan kisah tentang tokoh atau ulama-ulama dalam mencari ilmu dan meraih kesuksesan, kita belajar banyak dari semangat dan kegigihan mereka dalam mencari ilmu.

Kedua, kisah adalah salah metode belajar yang paling efektif. Kisah tokoh terkenal mudah dicerna dan dipahami sehingga kegigihan itu bisa memantik semangat dan membentuk motivasi para siswa untuk mengamalkan kegiatan yang sama, yaitu semangat belajar dalam segala kondisi.

Strategi yang paling efektif adalah menyelipkan kisah motivasi atau hikmah sesuai dengan pelajaran yang kita mampu. Misalnya, pelajaran Al-Islam atau agama, bisalah menyelipkan dua contoh kisah yang disebutkan di atas. Ketika pelajar bahasa Indonesia, bisa juga menyelipkan kisah bagaimana para penulis Indonesia—juga penulis dunia—dalam menelurkan karya-karya tulisannya. Kisah kehebatan Albert Einstein juga bisa dituturkan di sela-sela pelajar fisika. 

Bukankah dengan diselipi tentang kisah-kisah motivasi suasana belajar menjadi lebih cair dan menyenangkan? Bahan-bahannya sudah banyak tersedia dan berserakan di mana-mana. Tinggal gerak kitanya sebagai pengajar mau atau tidak untuk melakukannya. Ini adalah sekadar sarana yang bagi penulis baik untuk dilakukan. Wallahualam.

 Bandung (Antapani),

13 Maret 2019